PALANGKA RAYA-jurnalborneo.co.id
Sejumlah praktisi dan senior Dayung Kalimantan Tengah (Kalteng) mendatangi Kantor Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kalteng di Jalan Yos Sudarso, Rabu (3/6).
Kedatangan para mantan atlet dan pelatih senior seperti Yanson, Hardelis, Lampung, dan Wan Aplus ini bertujuan untuk meluruskan penggunaan istilah “legend” yang belakangan ini ramai diperdebatkan di media sosial.
Para senior dari Pengurus Provinsi Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (Pengprov PODSI) Kalteng ini berharap netizen dan masyarakat lebih bijak dan tidak sembarangan mengkultuskan seseorang dalam bidang olahraga.
Juru bicara para senior Dayung Yanson, menjelaskan bahwa status sebagai seorang legenda olahraga tidak bisa disematkan secara instan atau sekadar berdasarkan popularitas di media sosial.
”Gelar legend itu ada surat keputusan langsung dari Kementerian Pemuda dan Olahraga. Istilah itu merujuk pada seseorang yang benar-benar menyerahkan seluruh hidupnya sebagai atlet dan pelatih di cabang olahraga yang ditekuni sepanjang hayatnya,” tegas Yanson, yang diamini oleh Hardelis, Wan Aplus, dan Lampung.
Terkait sosok almarhum Benson yang belakangan ramai diperbincangkan, Yanson mengklarifikasi bahwa secara garis rekam jejak, almarhum belum masuk dalam kategori tersebut.
Meski demikian, para senior tidak menampik prestasi gemilang yang pernah diukir almarhum.
Benson tercatat mulai berprestasi sejak tahun 1986 pada Kejurnas Kendari, meraih medali emas di nomor Kayak 2 bersama pasangannya, Subandi.
Pada tahun yang sama, ia masuk tim nasional Indonesia dan menyabet medali emas di Kejuaraan Dunia Dragon Boat di Hong Kong, serta mendulang emas lagi di kejuaraan Brunei Darussalam.
Lampung menambahkan, prestasi Benson berlanjut di SEA Games 1987 Jakarta dengan raihan medali emas di nomor sama. Namun, karier olahraganya terhenti pada tahun 1988 karena almarhum beralih tugas menjadi Kepala Desa Tumbang Habaung di Kabupaten Gunung Mas.
”Kami memohon kepada netizen dan pihak keluarga untuk memaklumi hal ini. Kata legend itu beban tanggung jawabnya sangat berat, jadi harus berhati-hati menggunakannya,” harap Lampung.
Para senior Dayung menegaskan bahwa kedatangan mereka ke KONI Kalteng murni untuk mengedukasi publik agar tidak terjadi debat kusir di media sosial. Di sisi lain, mereka tetap menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas perhatian netizen dan masyarakat terhadap mendiang Benson.
”Kami sangat berterima kasih kepada Pengprov PODSI, KONI, dan semua pihak yang telah ikut membantu menggalang dana untuk almarhum Benson,” ungkap mereka.
Kedatangan para tokoh Dayung ini disambut langsung oleh Wakil Ketua Umum (Waketum) Bidang Organisasi KONI Kalteng, Ibu Merry Anitha, didampingi Wilson Kudit (Bidang Sekretariat), Sugianto (Ketua Bidang Prestasi), serta jajaran pengurus seperti Warda Rocky dan Mudianto Agan, serta H. Tantawi Jauhari.
Merry Anitha menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kunjungan serta masukan berharga dari para senior PODSI Kalteng.
Ia mengakui, pihak pengurus tidak mengetahui secara detail dinamika prestasi masa lalu karena banyaknya jumlah atlet dayung di Kalteng.
”Bagi pengurus KONI, juga teman-teman media di Humas, ini menjadi pelajaran berharga. Kami berterima kasih karena sekarang tahu bahwa menuliskan kata legend itu ada aturan bakunya dan tidak boleh sembarangan disematkan kepada seseorang,” pungkas Merry.
Setelah pertemuan dengan sejumlah praktisi dan senior Dayung Kalimantan Tengah, dilakukan penyerahan tali asih kepada keluarga almarhum Benson dari PODSI Kalteng dan KONI Kalteng. (Red)









