Palangkaraya, jurnalborneo.co.id – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, memasuki level yang sangat mengkhawatirkan. Jumat (8/5) antrean kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dilaporkan kian parah dibandingkan sebelumnya.
Ratusan kendaraan roda dua maupun roda empat terlihat mengular hingga 2 kilometer dan memakan sebagian besar badan jalan utama, yang berakibat pada kemacetan arus lalu lintas di beberapa titik strategis kota Palangkaraya.
Lengkeng (45) seorang warga yang mengantre di SPBU Jalan G. Obos mengaku harus menghabiskan waktu lebih dari dua jam hanya untuk mengisi tangki motornya dengan Pertalite.
“Dua jam lebih mas berjuang hanya untuk mendapatkan BBM, di eceran sudah tidak ada lagi. Meskipun ada jenis pertalite dijua seharga Rp20 ribu per liter sementara Pertamax dijual seharga Rp25 ribu per liter,” ucapnya kesal.
“Harapan kami masyarakat semoga kelakaan atau pun krisis BBM di Palangkaraya ini cepat teratasi, ujarnya.
Sementara itu, pantauan di lapangan kondisi antrean kendaraan bermotor di beberapa SPBU sangat parah.
SPBU km 6 Jalan Rajawali misalnya, sejak pukul 07.00 WIB antrean mengular baik kendaraan roda dua maupun roda empat terlihat dari depan SPBU sampai pasar Rajawali yang berjarak lebih dari 1 kilometer.
Tidak jauh berbeda dengan SPBU di Jalan Cilik Riwut km 6 dan SPBU Rajawali dekat simpang Jalan Antang, antrean tampak penuh berjubel.
Begitu pun halnya SPBU di Jalan Cilik Riwut km 2 Palangkaraya, antrean panjang untuk kendaraan roda empat sudah tampak dari simpang tiga Jalan Garuda induk menuju SPBU.
Sedangkan SPBU Jalan Cilik Riwut km 12 ketika disamperi tampak sejumlah aparat kepolisian yang berjaga tanpa ada aktivitas yang berarti di SPBU tersebut.
“Sedang kosong mas, silahkan ke SPBU yang lain saja,” kata seorang anggota polisi yang ada di lokasi. (Tom/shah)







