Indonesia Punya Posisi Strategis, UIN Palangka Raya Bahas Peluang di Tengah Geopolitik Global

4 Min Read

 

Palangka Raya, jurnalborneo.co.id – Universitas Islam Negeri (UIN) Palangka Raya menggelar kuliah umum bertema “Indonesia dalam Konstelasi Geopolitik Global Pasca Perang Dingin” di Aula Hasupa UIN Palangka Raya, Rabu (16/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan sekaligus memahami dinamika hubungan internasional dan perubahan geopolitik global.

Plt Asisten Pemerintah Bidang Kesejahteraan Rakyat Provinsi Kalimantan Tengah, Lisda Arriyana, mengapresiasi UIN Palangka Raya yang telah menginisiasi kegiatan tersebut.

“Kami atas nama Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada UIN Palangka Raya yang telah menginisiasi kegiatan ini,” ujar Lisda.

Menurutnya, tema geopolitik global penting dipahami karena berakhirnya Perang Dingin tidak serta-merta mengakhiri persaingan kepentingan antarnegara.

 

“Justru dunia terus mengalami perubahan dengan munculnya berbagai kekuatan baru,” katanya.

Lisda mengatakan, Indonesia memiliki posisi strategis dalam dinamika geopolitik global karena letak geografisnya berada di antara dua benua dan dua samudra.

“Indonesia tidak hanya menjadi bagian dari dinamika geopolitik global, tetapi juga memiliki kepentingan untuk ikut menjaga stabilitas kawasan dan perdamaian,” terangnya.

Ia menilai pemahaman mengenai geopolitik tidak hanya diperlukan oleh diplomat, pemerintah maupun pengambil kebijakan.

“Mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa juga perlu memahami bagaimana perubahan dunia memengaruhi kehidupan bernegara,” tambahnya.

Rektor UIN Palangka Raya, Prof. Dr. Ahmad Dakhoir, mengatakan perkembangan konflik global saat ini tidak selalu berlangsung dalam bentuk perang secara langsung.

“Perang dingin ini adalah sebuah perang yang tidak hanya terjadi secara langsung atau tidak sedang berhadap-hadapan. Hari ini perang yang kita hadapi adalah berkaitan problem ekonomi dan sebagainya,” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat pemahaman mengenai geopolitik global menjadi penting, khususnya bagi generasi muda.

“Maka dari itu, kita perlu memahami dan mengetahui kondisi geopolitik global kita pada hari ini,” tuturnya.

Ahmad Dakhoir juga menyampaikan terima kasih kepada narasumber dan mahasiswa yang hadir dalam kegiatan tersebut. Ia berharap kuliah umum dapat memberikan manfaat bagi seluruh peserta.

Hadir sebagai narasumber, Kepala Bagian Acara, Biro Protokol, Sekretariat Presiden RI, Mujaddid Akbar. Dalam pemaparannya, Mujaddid mengatakan berakhirnya Perang Dingin tidak membuat konflik dunia berakhir. Menurutnya, berbagai bentuk pertentangan dan persaingan baru justru muncul dalam perkembangan hubungan internasional.

“Berakhirnya Perang Dingin tidak mengakhiri konflik dunia, tetapi justru melahirkan berbagai bentuk pertentangan dan persaingan baru. Konflik ideologi berubah menjadi konflik peradaban, perang melawan terorisme, hingga persaingan geopolitik antara Amerika Serikat, Cina, dan Rusia,” jelas Mujaddid.

Ia menyebut dunia saat ini mulai memasuki era multipolar yang ditandai dengan munculnya berbagai ancaman hibrida, baik dalam aspek militer maupun nonmiliter.

“Indonesia memiliki peluang besar untuk berperan aktif dalam tatanan dunia baru,” ungkapnya.

Mujaddid menilai Indonesia memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari letak geografis, sumber daya alam, sumber daya manusia hingga sejarah sebagai bangsa besar.

Namun, menurutnya, Indonesia juga menghadapi sejumlah tantangan, seperti menyatukan masyarakat yang majemuk, pemerataan pembangunan, peningkatan kualitas sumber daya manusia serta ancaman dari dalam dan luar negeri.

“Dengan memanfaatkan potensi sumber daya manusia maupun sumber daya alam yang dimiliki, memperkuat diplomasi, meningkatkan penguasaan teknologi, serta menjaga persatuan nasional, Indonesia dapat menjadi salah satu kekuatan yang diperhitungkan dalam percaturan global,” tuturnya.

Sebaliknya, ia mengingatkan pengelolaan sumber daya yang tidak optimal dan melemahnya persatuan nasional dapat meningkatkan kerentanan Indonesia terhadap berbagai ancaman.

“Jika Indonesia tidak mampu mengelola sumber daya yang dimiliki dengan baik, persatuan dan kesatuan terus terkoyak, konflik primordial maupun elite terus terjadi, maka Indonesia sangat rentan terhadap ancaman yang timbul baik dari dalam maupun luar negeri,” pungkasnya. (shah/yp)

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *