Kuala Kapuas-jurnalborneo.co.id
Program Pengembangan Kompetensi Guru Sekolah Dasar Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD-MBI) Kabupaten Kapuas Kalteng memasuki tahap in service 2. Kegiatan dilaksanakan selama dua hari, Rabu–Kamis (19–20 Agustus) di Hotel Fovere Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah.
Kegiatan ini diikuti oleh 93 orang guru SD wilayah Kapuas.
Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari tahap On the Job Training (OJT) yang telah dijalani para guru peserta di sekolah masing-masing usai mengikuti In Service pertama beberapa waktu lalu.

Pada In Service 2 ini, para guru kembali berkumpul untuk mereviu dan menyempurnakan modul ajar Bahasa Inggris yang telah mereka susun dan uji cobakan langsung di kelas.
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Kalimantan Tengah, I Ketut Sukajaya, Kepala Subbagian Umum BGTK Kalimantan Tengah, Mila Apriliyani, serta Person in Charge (PIC) PKGSD-MBI, Riskiastrid.
Pendampingan teknis kegiatan dilaksanakan oleh tiga orang Fasilitator Daerah (FasDa), yaitu Poppy Meka, Tuti Marfuah, dan Septi.

Reviu Modul Berdasarkan Pengalaman Lapangan
Salah satu agenda utama In Service 2 adalah reviu modul ajar. Setelah sekian waktu mempraktikkan modul di sekolah masing-masing melalui tahap OJT, para guru diajak mengevaluasi kembali efektivitas modul tersebut: bagian mana yang berjalan baik di kelas, dan bagian mana yang perlu disesuaikan agar lebih kontekstual dan mudah diterapkan oleh guru kelas yang bukan berlatar belakang pendidikan Bahasa Inggris.
Pendalaman Empat Metode Pembelajaran
Selain reviu modul, peserta juga mendapatkan penguatan pada empat pendekatan/metode pembelajaran, yaitu:
CBLT (Competency-Based Language Teaching) pendekatan pengajaran bahasa yang berorientasi pada capaian kompetensi berbahasa yang jelas dan terukur bagi peserta didik.
CILT (Content and Integrated Language Teaching / Context-based Interactive Language Teaching) mengaitkan pembelajaran bahasa Inggris dengan konteks materi dan kehidupan sehari-hari siswa agar lebih bermakna.
PJBL (Project-Based Learning) pembelajaran berbasis proyek, mendorong siswa belajar bahasa Inggris melalui produk atau proyek nyata yang mereka kerjakan.
PBL (Problem-Based Learning) pembelajaran berbasis masalah, melatih siswa menggunakan bahasa Inggris untuk memecahkan persoalan sederhana secara kolaboratif.
Keempat metode ini diperkenalkan sebagai variasi strategi mengajar yang dapat dipilih guru sesuai kebutuhan kelas, sejalan dengan semangat program PKGSD-MBI yang mendorong pembelajaran Bahasa Inggris di SD tetap kontekstual, aktif, dan menyenangkan.
Berbagi Best Practice: Hambatan dan Keberhasilan
Momen yang tidak kalah penting dalam In Service 2 adalah sesi berbagi best practice dari masing-masing guru peserta. Setiap guru menceritakan pengalamannya selama tahap OJT di sekolah masing-masing, termasuk:
Kendala (obstacles) yang dihadapi, seperti keterbatasan waktu, kepercayaan diri berbahasa Inggris, hingga kondisi dan karakteristik siswa di masing-masing sekolah.
Keberhasilan (victory), yakni capaian dan perubahan positif yang dirasakan setelah menerapkan modul dan metode pembelajaran baru, termasuk respons antusias siswa terhadap pembelajaran Bahasa Inggris yang dikemas lebih interaktif.
Sesi ini menjadi ruang refleksi dan saling belajar antar-guru, sekaligus memperkuat semangat kolaborasi dalam mengimplementasikan program PKGSD-MBI di lingkup Kabupaten Kapuas.
Kesan dan Harapan dari Peserta
Rangkaian pendampingan program PKGSD-MBI di Kabupaten Kapuas turut meninggalkan kesan mendalam bagi para guru peserta yang telah mendapatkan pendampingan selama kurang lebih enam bulan, sejak tahap pembekalan awal hingga In Service 2.
Salah satu peserta Ivo Crisnani
menyampaikan rasa terima kasihnya atas bimbingan yang diterima dari Fasilitator Daerah selama masa pendampingan tersebut.

Selain itu, ucapan terima kasih turut disampaikan kepada FasDa Tuti Marfuah, yang dinilai peserta telah membimbing dengan sabar, berbagi ilmu, serta memberikan motivasi selama pendampingan berlangsung.
Peserta juga menyampaikan bahwa meski para guru berasal dari latar belakang berbeda, proses pelatihan telah mempertemukan mereka untuk saling belajar, bertumbuh, dan menguatkan satu sama lain.
Peserta berharap ilmu dan pengalaman yang diperoleh dapat dibawa pulang dan diterapkan di sekolah masing-masing, serta mendoakan agar fasilitator daerah senantiasa diberikan kesehatan dan kesuksesan atas ketulusannya membimbing para peserta selama ini.
Peserta mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam atas kesabaran dan ketulusan dalam membagikan ilmu selama proses pendampingan.
Menuju Kesiapan Bahasa Inggris sebagai Mata Pelajaran Wajib
Program PKGSD-MBI sendiri merupakan bagian dari persiapan nasional menjelang penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di tingkat SD mulai tahun ajaran 2027/2028.
Melalui rangkaian In Service dan OJT yang berkesinambungan, guru-guru SD di Kabupaten Kapuas diharapkan semakin percaya diri dan kompeten dalam menghadirkan pembelajaran Bahasa Inggris yang efektif bagi siswa.(red)
