Palangka Raya-jurnalborneo.co.id
Pulau Kalimantan diproyeksikan menjadi superhub ekonomi Nusantara yang mendorong transformasi ekonomi dan pemerataan pembangunan melalui penguatan konektivitas dan kerja sama regional.
Proyeksi tersebut diharapkan meningkatkan akses masyarakat terhadap peluang ekonomi, lapangan kerja, layanan dasar, serta memperkuat rantai pasok dan memperluas peluang pertumbuhan hingga kawasan Indonesia Timur.
Hal tersebut yang disampaikan oleh Kementerian PPN/Bappenas yang mana mendorong penguatan kerja sama antara Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam untuk mewujudkan Kalimantan sebagai penggerak transformasi ekonomi dan pemerataan pembangunan. Dimana keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan menjadi jangkar ekosistem ekonomi Kalimantan yang mendukung pergeseran pusat gravitasi ekonomi Indonesia ke luar Jawa dan Sumatra.
Melihat proyeksi tersebut, juga menjadi peluang besar bagi Kalimantan Tengah dalam memperkuat ekonomi terutama melalui hilirisasi, konektivitas dan investasi produktif.
Hal ini yang disampaikan oleh Ekonom asal Kalimantan Tengah, Rio Kriswana, Rabu (21/10/2026).
Dalam analisis dan tanggapanya, Rio mendukung proyeksi Kalimantan sebagai Superhub Ekonomi Nusantara yang disampaikan Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy di 2nd Borneo Economic Forum, Kuching, Malaysia, pada 7 Oktober 2026.
Dikatakan Rio, agenda tersebut membuka peluang bagi Kalteng memperkuat peran ekonomi melalui hilirisasi, konektivitas, dan investasi produktif dan dapat membangun perekonomian Kalteng ditengah situasi tantangan saat ini.
Dijelaskan Rio, dimana superhub tidak semestinya hanya dipahami sebagai pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) atau infrastruktur berskala besar, melainkan Kalimantan perlu menghubungkan sumber daya alam, industri pengolahan, logistik, dan perdagangan regional agar menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat luas.
“Ini momentum yang perlu dimanfaatkan pemerintah dan dunia usaha. Sumber daya alam harus diolah menjadi produk bernilai tambah, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat daya saing daerah. Ini salah satu keuntungan bagi daerah, termasuk juga perekonomian untuk masyarakat luas di Kalimantan Tengah,” tegas Rio.
Dari data BPS, lanjut Rio, ekonomi Kalteng tumbuh 4,80 persen pada 2025 dengan PDRB atas dasar harga berlaku sekitar Rp241,1 triliun. Kontribusinya terhadap struktur ekonomi Pulau Kalimantan mencapai 12,56 persen. Namun, Bank Indonesia mencatat ekonomi Kalteng pada triwulan II 2026 tumbuh 3,53 persen secara tahunan, di bawah pertumbuhan regional Kalimantan sebesar 4,10 persen dan nasional 5,29 persen.
Hal itu, kata Rio, potensi sumber daya belum otomatis menghasilkan pertumbuhan tinggi, dimana produktivitas dan investasi perlu diperkuat.
“Kalteng memiliki basis perkebunan, pertanian, pertambangan, dan industri pengolahan. Potensi itu perlu dikembangkan agar daerah tidak hanya memasok bahan mentah, sementara nilai tambah, teknologi, dan pekerjaan berkualitas justru lebih banyak tercipta di luar daerah. Peluang ini harus bisa dijadikan bagian penyemangat untuk pertumbuhan ekonomi Kalteng, inilah salah satu kesempatanya,” jelasnya.
Rio menegaskan Kalteng dapat mengambil peran melalui penguatan industri hilir berbasis perkebunan dan pertanian. Salah satunya, pada sektor sawit, peluangnya antara lain pengembangan oleokimia, biodiesel, minyak goreng, dan produk turunan lain. Sektor pertanian juga dapat diperkuat melalui pengolahan hasil panen, penyimpanan, dan sistem distribusi yang mampu menyerap produksi lokal secara berkelanjutan. Langkah ini dapat membuka peluang bagi petani, UMKM, tenaga kerja, dan penyedia jasa logistik.
Untuk menopang peran itu, tambah pria yang pernah membawa atlet Esport medali Perak di PON tersebut, pemerintah perlu memprioritaskan konektivitas antarsentra produksi dengan kawasan industri, pelabuhan, jalur transportasi sungai, dan pasar.
Rio menyebut Infrastruktur harus sesuai kebutuhan ekonomi dan tahan terhadap gangguan distribusi, termasuk kepastian perizinan, energi, pembiayaan, kesiapan lahan, serta pelayanan investasi yang terintegrasi juga diperlukan.
“Investasi akan lebih bermanfaat ketika terhubung dengan kapasitas ekonomi lokal. UMKM perlu memperoleh kesempatan masuk ke rantai pasok, tenaga kerja lokal perlu mendapat pelatihan sesuai kebutuhan industri, dan perguruan tinggi dapat dilibatkan untuk meningkatkan teknologi serta produktivitas,” sebutnya.
Rio Kriswana menambahkan, kerja sama Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam dapat memperluas pasar bagi produk Kalteng.
“Jadi kedekatan geografis perlu diterjemahkan menjadi perdagangan, investasi, dan kemitraan nyata, dan ini peluang yang sangat besar untuk Kalimantan, termausk juga Kalteng. Pengembangan industri juga harus menjaga lingkungan, mencegah karhutla, melindungi sumber daya air, serta menghormati hak masyarakat lokal tentunya,” sebutnya.
Rio menjelaskan, penempatan Kalimantan sebagai kawasan strategis dalam agenda ekonomi nasional merupakan kesempatan untuk memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap arah pembangunan. Aspirasi atas pemerataan pembangunan perlu dijawab melalui kebijakan terukur di bidang infrastruktur, investasi, industri, dan manfaat ekonomi.
“Pengakuan atas posisi strategis Kalimantan harus terlihat dalam hasil yang dirasakan masyarakat. Masa depan daerah diperjuangkan dengan memperkuat daya saing dan kontribusi dalam ekonomi nasional. Jadi bagi Kalteng, superhub harus menjadi momentum naik kelas dari pemasok komoditas menjadi bagian aktif dalam rantai nilai regional,” demikian Rio
Foto Ekonom muda Kalteng Rio Kriswana
